Selasa, 19 Oktober 2010

PEMBUATAN SILASE HIJAUAN

Silase adalah pakan yang telah diawetkan dibuat dari tanaman yang dicacah, pakan hijauan, limbah dari industri pertanian dengan kadar air pada tingkat tertentu yang diisikan pada silo. Pada pengertian yang lain silase adalah hijauan pakan ternak yang disimpan dalam keadaan segar dengan kadar air sekitar 60 – 70 % didalam suatu tempat yang disebut silo. Sedangkan silo adalah tempat penyimpanan pakan ternak baik yag dibuat didalam tanah atau diatas tanah. Silase dibuat dengan cara fermentasi pada kelembaban yang tinggi. Proses pembuatannya disebut en silage. Hijauan yang baru dipotong kadar airnya sekitar 75 – 80 %, sehingga untuk menghasilkan silage yang baik hijauan tersebut dilayukan terlebih dahulu 2 – 4 jam.

Tujuan pembuatan silase antara lain :
1. Untuk mengatasi kekurangan makanan ternak pada musim kemarau atau musim paceklik.
2. Untuk menampung kelebihan produksi hijauan pakan ternak atau memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik tetapi belum dimanfaatkan.
3. Memanfaatkan hasil sisa pertanian atau ikutan pertanian

Untuk mendapatkan silase dengan kulitas yang baik perlu dilakukan persiapan-persiapan dasar, seperti :
1. Pengaturan udara dalam silo. Fermentasi silase adalah fermentasi asam laktat dalam kondisi anaerob oleh karena itu pengisian bahan dilakukan dalam waktu yang singkat dan segera ditutup dengan baik.
2. Kandungan air dalam bahan lebih baik dalam kisaran 60 – 70 %.
3. Kandungan gula dalam bahan yang terlarut dalam air pada bahan kering lebih dari 12 % dan 3 % pada bahan segar . Jika kandungan gula tidak cukup tersedia dalam bahan maka perlu ditambahkan gula. Macam zat tambahan yang dapat digunakan dalam pembuatan silase :

a. Zat yang merupakan bahan untuk fermentasi, seperti campuran asam sulfat dan hidrochlorat yang dipakai dalam metode AIV dan asam format.
b. Zat yang mempercepat fermentasi, seperti enzim, kultur bakteri, dan anti oksidan.
c. Zat yang menambah zat-zat makanan, seperti molases (gula tetes)
4. Penyimpanan harus berada pada suhu serendah mungkin.
5. Pemotongan atau pencacahan bahan.
6. Pemadatan atau penekanan perlu dilakukan untuk meningkatkan isi silase.

Proses pembuatan silase pada dasarnya adalah merangsang pertumbuhan bakteri (lactobacillus) asam laktat yang secara normal terdapat dalam hijauan segar. Bakteri asam laktat mengkonsumsi gula pada bahan material dan akan terjadi kondisi anaerob, sehingga silase apat disimpan dalam jangka waktu lama dengan tingkat kehilangan nutrisi untuk fermentasi antara lain pH yang rendah dan stabil, asam laktat, gas karbondioksida (CO2), gas nitrogen, dan lain-lain . Kandungan nilai nutrisi silase tergantung pada spesies hijauan, umur tanaman (tua atau muda), dan aktivitas enzim bakteri dalam proses fermentasi hijauan. Sedangkan kualitas silase tergantung pada tingkat kedewasaan dan susunan kimia tanaman yang disimpan, perbandingan karbohidrat yang larut dengan kandungan dasar minimal tanaman, persentase kelembaban tanaman, kecepatan dan kesempurnaan udara yang dikeluarkan selama pengisisan silo dan luasnya temperatur hijauan yang meningkat.

Ciri-ciri silase yang baik antara lain rasa dan bau asam, warna masih hijau (bukan coklat), tekstur hijauan masih jelas seperti alaminya, tidak berjamur, tidak menggumpal, tidak berlendir, secara laboratoris banyak mengandung asam laktat, kadar N (amonia) rendah kurang dari 10 %, tidak mengandung asam btirat, pH rendah 3,5 – 4.

Setelah disimpan sekitar 3 minggu silase dapat diberikan kepada ternak Seandainya belum diberikan pada ternak usahahan silo tetap dalam kondisi tertutup rapat sehingga dapat disimpan 3 – 6 bulan. Pemberian silase pada ternak jangan terlalu sering membuka tutup silo karena dapat menyebabkan silase cepat rusak. Silo dalam 1 hari dianjurkan hanya dibuka 1 kali (untuk makan pagi dan sore dikeluarkan sekaligus). Sapi yang belum terbiasa makan silase diberikan sedikit demi sedikit, dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan. Silase daun jagung mengandung jumlah protein rata-rata sekitar 12 – 16 %.




Referensi :
AAK. 1983. Hjauan Makanan Ternak Potong, Kerja, dan Perah. Penerbit Kanisisus. Yogyakarta.
Anonim. Teknologi Pengawetan Makanan Ternak. Diakses dari http://litbang.deptan. go.id pada tanggal 16 November 2007

Darmono. 1993. Tatalaksana Usaha Sapi Kereman. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Williamson, G dan W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.


TEKNIK PEMBUATAN SILASE

1. Penyiapan Silo
Langkah - langkah yang dilakukan adalah menyapu silo sampai bersih dan mengeringkan   hingga benar-benar kering.


2. Pemotongan Dan Pencacahan Hijauan

                                                        Proses Pemotongan Rumput


                                                      Proses Pencacahan Rumput





 3. Proses Pelayuan



                                                    Proses Pengeringan Rumput

4. Penggunaan Bahan Tambahan
Bahan yang digunakan adalah gula,( gula merah/gula pasir ) Tebarkan gula tersebut pada setiap lapisan rumput pada waktu proses pemadatan, agar hasil nya dapat bagus.


5. Pemadatan


                                                        Proses Pemadatan Rumput




6. Penutupan/ Pembungkusan

   Setelah  selesai melakukan pemadatan, selanjutnya tutup dengan silo yang sudah disiapkan. Pada bagian luar dihimpit dengan karung yang berisi pasir atau tanah yang bertujuan untuk mencegah masuknya udara,semakin sedikit udara yang masuk maka akan semakin baik silase yang akan dihasilkan.
Untuk mencegah penyinaran langsung dari sinar matahari,tutupi silase dangan rumput yang tidak dipakai/berlebih dalam proses pembuatan silase.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar