Kamis, 30 September 2010

Nama-Nama Kecamatan,Nagari DaN Jorong ( Desa ) Di Pasaman

Berikut adalah nama-nama daerah berdasarkan Jorong (Desa dulunya) dalam
Kecamatan pada Kabupaten beserta Kanagarian juga.

Kabupaten Pasaman
Þ Bonjol 
Þ III Nagari
Þ Lubuk Sikaping
Þ II Koto
Þ Panti
Þ Rao
Þ Mapat Tunggal
Þ Mapat Tunggal Selatan

Bonjol
 1. Koto Kaciak
 2. Batu Badindiang
 3. Aia Abu
 4. Kampuang Melayu
 5. Kampuang Pandam
 6. Tabiang
 7. Kampuang Parik
 8. Simpang Utara
 9. Simpang Selatan
10. Bukik Malintang
11. Guguak Malintang
12. Kampung Dalam
13. Ganggo Hilia
14. Bonjol
15. Ganggo Mudiak
16. Lurah Barangin
  
III Nagari
 1. Padang Sawah
 2. Binjai
 3. Tarantang Tunggang
 4. Padang Kubu
 5. Pasa Ladang Panjang
 6. Kampung Kajai
 7. Parik Batu
 8. Parik Lubang
 9. Malampah Utara
10. Siparayo
11. Maringging

Lubuak Sikapiang
 1. Kampuang Tangah
 2. Talago
 3. Tanjung Beringin
 4. Jambak
 5. Durian Tinggi
 6. Teluk Ambun
 7. Pauh
 8. Tanjung Alai
 9. Ambacang Anggang
10. Padang Sarai
11. Rumah Nan XXX
12. Kampung Nan VI
13. Kp.Padang/Paraman Dareh
14. Sei Pandahah
15. Koto Tinggi
16. Salibawan
  
II Koto 
1. Lanai Sinoangon
 2. Silang IV Silalang
 3. Batang Tuhur
 4. Sentosa
 5. Pasa Cubadak
 6. Simpang III Cubadak
 7. Tonang Raya
 8. Setia
 9. Sei Barameh
10. Tanjuang Mas
11. Kalabu
12. Rambah Lanai
13. Sontang

Panti
 1. Ampang Gadang
 2. Petok
 3. Lundar
 4. Murni Panti
 5. Sentosa
 6. Bahagia
 7. Kuamang
 8. Bahagia Pdg Gelugur
 9. Makmur Pdg Gelugur
10. Sentosa Pdg Gelugur
11. Selamat
12. Kauman
13. Rambahan

Rao
 1. Kampuang VII
 2. Tanjuang Batuang
 3. Sarasi
 4. Baringin Setia
 5. Tarung-Tarung Selatan
 6. Tarung-Tarung Utara
 7. Lansat Kadap
 8. Lubuak Layang
 9. Padang Matinggi
10. Tarung-Tarung
11. Padang Aro
12. Muaro Penyenggarahan
13. Languang Sepakat
14. Languang Saiyo
15. Koto Rajo
16. Koto Nopan Saiyo

Mapat Tunggal
1. Lubuak Gadang
2. Pintu Padang
3. Muaro Tais Timur
4. Muaro Tais Tangah
5. Botung Busuk
6. Muaro Tais Barat

Mapat Tunggal Selatan
1. Batang Timbulun
2. Muaro Sungai Lolo
3. Kampung Parit Selatan
4. Bangkok

Kanagarian di Kabupaten Pasaman
 1.  Aia Bangih
 2.  Aia Gadang
 3.  Aia Manggih
 4.  Alahan Mati
 5.  Aua Kuniang
 6.  Batahan
 7.  Binjai
 8.  Cubadak
 9.  Desa Baru
10. Durian Tinggi
11. Jambak
12. Ganggo Hilia Bonjol
13. Ganggo Mudiak
14. Kajai
15. Katiagan
16. Kapar
17. Kinali
18. Koto Baru
19. Koto Nopan
20. Koto Kaciak
21. Koto Rajo
22. Ladang Panjang
23. Lansat Kadap
24. Languang
25. Limo Koto
26. Lingkuang Aua
27. Lubuak Gadang
28. Lubuak Layang
29. Malampah
30. Muaro Kiawai
31. Muaro Sei. Lolo
32. Muaro Tais
33. Padang Gelugur
34. Padang Matinggi
35. Panti
36. Parik
37. Pauah
38. Robi Jonggor
39. Sasak
40. Silayang
41. Simpang
42. Simpang Tonang
43. Sinurut
44. Sundatar
45. Sungai Aua
46. Talu
47. Tanjuang Beringin
48. Taruang Taruang
49. Ujuang Gadiang



PASAMAN 
 
DESA Tanjung Bungo, Bonjol, salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten
Pasaman, Sumatera Barat, pernah 'melahirkan' sosok pahlawan nasional,
sekaligus salah satu tokoh Perang Paderi. Beliau adalah Peto Syarif Tuanku
Imam Bonjol, tokoh pemuka agama yang cukup berwibawa di desanya. Saat itu,
desa yang ditinggali Tuanku Imam Bonjol terlibat dalam pertikaian antara
golongan agama yang menginginkan pemurnian kembali ajaran Islam, yang
dipelopori oleh Haji Miskin, dengan golongan adat yang tidak menghendaki hal
tersebut. Saat itu, seperti wilayah Indonesia lainnya, Sumatera Barat,
khususnya Pasaman, juga dikuasai oleh kolonial Belanda. Oleh karena
menyadari kerugian yang ditimbulkan akibat pertikaian antar-saudara ini,
maka Peto Syarif berusaha menghentikannya dengan mempersatukan kedua
golongan tersebut untuk bersama-sama melawan penjajah Belanda. Usaha beliau
berhasil dan sejak itu, peperangan melawan Belanda yang lebih dikenal dengan
Perang Paderi (1821-1830), dimulai. Namun sayang, terlalu banyak
permasalahan pada kubu Tuanku Imam Bonjol yang akhirnya menyebabkan beliau
dan pengikutnya mengalami kekalahan melawan Belanda.
Selain dicatat sejarah karena telah 'melahirkan' seorang pahlawan nasional
seperti Tuanku Imam Bonjol, Pasaman juga memiliki kenyataan penting lain
untuk diketahui. Kenyataan yang juga terkait dengan sejarah tersebut adalah
ditemukannya Pasaman sebagai salah satu tempat tinggal nenek moyang bangsa
Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya situs peninggalan
bersejarah di wilayah ini beberapa tahun lalu. Sayangnya, belum diketahui
berasal dari zaman apa situs tersebut berasal. Situs yang terdiri atas
beberapa bangunan bekas candi itu, hingga saat ini, masih diteliti oleh para
arkeolog.
Patut disesali, keberadaan peninggalan bersejarah ini kurang begitu mendapat
perhatian masyarakat. Areal sekitar candi Mahligai dan candi Putri Sangkar
Bulan, dipenuhi semak belukar. Bangunan candi Mahligai sendiri sekitar
delapan tahun lalu telah rata dengan tanah, sedangkan candi Putri Sangkar
Bulan nyaris tinggal puing. Proses 'penghancuran' keempat candi (candi Putri
Sangkar Bulan terdiri atas tiga bangunan candi) tersebut disebabkan karena
adanya proyek pembangunan saluran irigasi di Kecamatan Panti, Pasaman.
Jika sektor pariwisata kurang berkembang di Kabupaten Pasaman, tentu bukan
merupakan alasan bagi Pemda untuk tidak menggarap potensi wisata yang
dimiliki wilayah yang salah satu kecamatannya, Kecamatan Bonjol, dilewati
garis khatulistiwa 0 derajat ini. Padahal, pariwisata tidak hanya terkait
pada satu sektor saja, melainkan bergantung pada sektor-sektor lainnya.
Dapat dikatakan, pariwisata tidak pernah menjadi sektor hulu atau hilir,
melainkan berada di tengah-tengah seperti pusaran air yang menghisap sektor
lain untuk mendukung keberadaannya.
 
Apabila sektor pariwisata kurang 'berbicara' pada aktivitas perekonomian
Kabupaten Pasaman, hal itu disebabkan karena selama ini, kontributor
utamanya berasal dari sektor pertanian.
Setiap tahun, kontribusi sektor pertanian pada kegiatan ekonomi Pasaman,
selalu mengungguli sektor lainnya. Seperti pada tahun 1999, pertanian
menyumbang Rp 604 milyar lebih dari sekitar Rp 1,4 trilyun rupiah total
kegiatan ekonomi Kabupaten Pasaman.
Kegiatan ekonomi penduduk Kabupaten Pasaman yang mengandalkan sektor
pertanian ditopang dengan jumlah tenaga kerja yang sebagian besar bermata
pencaharian di sektor ini. Angkatan kerja di Pasaman yang berusia 10 tahun
ke atas, pada tahun 1999 tercatat sebanyak 256.354 jiwa. Dari jumlah itu,
247.294 orang atau sekitar 96 persennya telah bekerja. Dari total penduduk
bekerja, 72 persennya bekerja di sektor pertanian.
Penghasil rupiah terbesar di sektor pertanian berasal dari subsektor tanaman
pangan. Meski demikian, Kabupaten Pasaman lebih dikenal karena produksi
kelapa sawitnya, yang merupakan komoditas primadona subsektor perkebunan.
Tanaman ini tersebar di 6 kecamatan, antara lain kecamatan Sungai Beremas,
Lembah Melintang, Gunung Tuleh, Kinali, Ranah Bantahan, dan Pasaman. Di
beberapa wilyah di kecamatan Bonjol dan Rao Mapat Tunggul (dua kecamatan
sebelum dimekarkan menjadi kecamatan III Nagari dan Mapat Tunggul), beberapa
waktu lalu juga mulai diusahakan untuk penanaman komoditas unggulan ini.
Pada tahun 1999, produksi kelapa sawit di Kabupaten Pasaman tercatat 566.957
ton. Jumlah tersebut dipanen dari areal seluas 63.249 hektar. Salah satu
kecamatannya yaitu Pasaman, menjadi wilayah penghasil utamanya dengan
menyumbang 65 persen dari total produksi. Kawasan Simpang Ampat yang
terdapat di kecamatan ini, bahkan dikenal sebagai pusat perkebunan kelapa
sawit di Kabupaten Pasaman.
Di samping kelapa sawit, kabupaten terluas di Provinsi Sumatera Barat ini
juga dikenal akan produksi minyak nilamnya. Minyak nilam yang dihasilkan
Pasaman, selain yang dihasilkan Kepulauan Mentawai, merupakan yang terbaik
di dunia. Bahkan, industri minyak nilam yang tergolong industri kecil di
wilayah ini, termasuk dalam lima besar industri kecil di wilayahnya. (Palupi
P Astuti/ Litbang Kompas)
Pasaman, Memutus Mata Rantai Kemiskinan

  JANGAN dikira dengan banyaknya investor yang menanam modal, otomatis
kehidupan masyarakat terdongkrak, masyarakat akan sejahtera. Kenyataan
selama ini di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar), sebaliknya.
Masyarakat dibelit kemiskinan, dengan beragam dampak ikutannya.
Data tahun 2000, di daerah seluas 7.835,40 kilometer persegi-terluas di
Sumbar- dan berpenduduk 504.530 jiwa ini terdapat 23.885 kepala keluarga
atau 92.033 jiwa (10.034 di antaranya anak balita) yang hidup dalam
kemiskinan dan rawan pangan.
Makanya, jangan heran daerah di bagian utara Padang dan berbatasan dengan
Provinsi Sumatera Utara ini dilanda kasus gizi buruk (marasmus, kwashiorkor,
dan marasmic kwashiorkor) dan kurang energi protein (KEP) yang
berkepanjangan dan angkanya terbesar di Sumbar.
Tahun 2000 (Juli 2000) terdapat 778 balita mengalami gizi buruk dan KEP, 159
anak di antaranya kategori berat dan sisanya sedang. Bila dimasukkan balita
yang mengalami KEP kategori ringan, angkanya semakin besar. Jumlah ini
berkurang dibanding tahun 1999, di mana angka penderita gizi buruk (kategori
berat dan sedang) mencapai 2.003 anak balita.
"Bagaimanapun, ini harus menjadi perhatian serius pemerintah Kabupaten
Pasaman, jika hendak mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Apalagi dalam visi pembangunan Kabupaten Pasaman lima tahun ke
depan yang dirumuskan akhir April 2001, mewujudkan masyarakat sejahtera
dengan penyelenggaraan pemerintah yang baik, dengan sumber daya manusia yang
berkualitas," kata Prof Dr Ir Muchlis Muchtar MS, Ketua Umum Perhimpunan
Peminat Gizi dan Pangan Sumbar.
 
MENURUT Wakil Bupati Pasaman, Benny Utama, di daerahnya terdapat 21 investor
besar perkebunan kelapa sawit. Ironisnya, rata-rata investor tersebut
bermasalah sejak belasan tahun lalu. Masalahnya selama ini bagai lingkaran
setan yang sulit diselesaikan.
"Permasalahan investor itu terutama soal tidak duduknya pembagian uang
siliah jariah (ganti rugi) dan janji pembuatan lahan plasma untuk
masyarakat," katanya. Perusahaan perkebunan sawit yang dinilai bermasalah
antara lain PT AMP seluas 1.950 ha, PT TSJ 800 hektar, PT ASM 500 ha, PT
Puska 550 ha, PT Grasindo 2.800 ha, PT AW 3.899 ha, PT PM 2.104 ha, dan PT
PMJ 3.118 ha, bahkan juga PT Perkebunan Nusantara 6.
Persoalan lain, perusahaan kelapa sawit membeli sawit rakyat dengan harga di
bawah standar yang ditetapkan pemerintah. Data yang dihimpun Kompas, harga
tandan buah segar (TBS) sawit milik rakyat di Pasaman berkisar Rp 200 sampai
Rp 210/kg. Sedangkan harga standar TBS Rp 430/kg.
Wakil Bupati Pasaman menegaskan, kalau keberadaan investor perkebunan/pabrik
di Pasaman ingin berlanjut, hendaknya memperhatikan kepentingan rakyat.
Selain itu, investor juga harus menyelesaikan biaya ganti rugi (siliah
jariah) dan membeli sawit petani sesuai harga standar.
Selain investor perkebunan, investor kehutanan juga bermasalah. Mereka
membabat hutan tanpa memperdulikan nasib masyarakat. Pencurian kayu di luar
areal yang ditetapkan sering terjadi. Untuk memutus lingkaran setan
persoalan kehutanan ini, Bupati Pasaman Baharuddin mengambil tindakan tegas.
Kayu hasil curian disita, dan investornya harus membayar fee kepada
masyarakat.
"Lingkaran setan persoalan yang melilit masyarakat harus diputus. Bila
tidak, masyarakat tetap dalam kemiskinan. Tekad Pemerintah Kabupaten Pasaman
sekarang adalah memutus rantai kemiskinan ini, menuju masyarakat yang
sejahtera," kata Baharuddin.
 
PASAMAN selama ini hanya dikenal sebagai daerah pertanian dan perkebunan.
Sebagai daerah tujuan wisata, Pasaman belum dikenal, padahal prospeknya
sangat bagus. Karena alasan jauh dari Padang, ibukota Provinsi Sumbar, Dinas
Pariwisata Sumbar kurang mempromosikannya. Padahal, banyak keunikan obyek
wisata Pasaman yang tak dimiliki daerah lain di Sumbar.
Seyogyanya Pemerintah Kabupaten Pasaman lebih gencar mempromosikannya. Dari
48 obyek wisata yang ada, misalnya, terdapat sumber air panas Rimbo Panti di
kawasan hutan yang asri. Yang lebih unik lagi adalah adanya Tugu
Khatulistiwa dilengkapi museum, di Bonjol. Kenapa Tugu Khatulistiwa di
Pontianak, Kalimantan Barat, lebih terkenal dan sudah mendunia, sementara
Tugu Khatulistiwa di Bonjol kurang dikenal? Bila perlu, aparat melakukan
studi banding dan belajar bagaimana mengelola obyek wisata Tugu Khatulistiwa
di Pontianak itu.
Sayangnya, sudah kurang diperkenalkan, tugu tersebut juga tak terurus. Di
sekitar Tugu Khatulistiwa (Equator) tumbuh pepohonan liar. Tanaman dan bunga
tidak ditata seapik mungkin. Bangunan di sekitar lokasi itu pun sudah rusak.
Begitu juga Museum Tuanku Imam Bonjol, kondisinya juga memprihatinkan.
Dengan nama Museum Tuanku Imam Bonjol, sebetulnya obyek wisata ini bernilai
jual tinggi. Calon pelancong pasti ingin tahu segala sesuatu tentang Tuanku
Imam Bonjol, salah seorang pahlawan nasional dan tokoh utama Perang Paderi
(1821-1830).
Industri pariwisata, jika ditata dan dikelola baik, juga bisa memberikan
penghidupan bagi banyak orang. Pembuatan miniatur Tugu Khatulistiwa, sebagai
contoh, belum pernah dikerjakan orang disana. Begitu juga miniatur Tuanku
Imam Bonjol dengan kudanya.
Barangkali, dengan membentuk dan membina kelompok perajin, berbagai
cenderamata khas dan unik bisa dihasilkan. Ini peluang yang selama ini belum
ditangkap. Apalagi, sebagian besar masyarakat enggan menjadi buruh
perkebunan, sehingga kerja di sektor pariwisata dan industri kecil ini bisa
menjadi peluang yang menjanjikan. (Yurnaldi)
 
Diambil dari Otonomi Daerah Kompas On-Line: http://www.kompas.co.id, dan
data - data dari Data Tabulasi Nasional Pemilu (Sumbar) di
http://wwwtnp.kpu.go.id  Serta dari http://www.nagari.org

1 komentar:

  1. Kalau mengirim data yang benar dong masak wilayah Pasaman Barat dimasukkan ke Kabupaten Pasaman!!!! ini datanya nggak Valid, akurat dan akuntabel!!!

    BalasHapus